07 September 2008

Kita Nantinya Sebagai yang Dititipi

Selasa minggu kemarin aku terguncang..
Aku baru tahun ini sekelas dengan dia, tapi karena dia cukup terkenal di angkatanku, setidaknya aku tahu dia seperti apa.
Waktu lagi nunggu praktikum fisika, aku cuma mondar-mandir ga jelas ato ke WC, membuang waktu yang jelas. Lalu aku kaget, saat aku mau naruh tas, seorang Quincy sedang menangis di antara kerumunan kawannya. Aku pikir, Quincy adalah orang yang pantang menangis di depan orang lain, selama ini aku selalu melihat sosoknya yang ceria, ekspresif, supel, bertanggung jawab. Ternyata memang benar, manusia itu seperti kedondong...
Quincy punya masalah yang menurutku memang sangat menguras tenaga, karena aku juga mengalaminya. Sepertinya orang tua Quincy terlalu menuntut. Ia sampai menangis seperti itu, berarti ia sudah tidak kuat lagi, kan?
Sedikit, kudengar pembicaraan Quincy dan teman2nya *Nadia, Manda Dagu, dan Jeha*
Terdengar Quincy protes dengan sikap orang tuanya yang *menurutku* terdengar sok tahu dengan kehidupan sekolah dan kegiatan Quincy di rumah. Mereka menggangap Quincy tidak pernah belajar di rumah. Dan pernyataan dari pendapat Quincy yang mau tak mau harus kusetujui adalah : "Gue tuh kayak dianggep cuma numpang makan sama tidur doang! Padahal gue udah belajar mati2an!"
Dan aku tahu Quincy memang begitu, belajar mati2an...
Sesaat sebelum praktikum dimulai, aku menghampiri Quincy dan menyemangatinya, memberi tahu bahwa aku juga mengalami hal yang sama. Quincy, dengan mata yang masih sembab, spontan meresponku. Dia lalu bertanya padaku lagi bahasa jepang dari "Aku Keren" dan kujawab "Atashi Kakkoi" dan dia mengulangi kalimat itu dengan muka yang sedikit lebih lega dan berseri. Semoga kalimat itu dapat menyemangatinya kapan pun...
Aku memaklumi semua orang menangis kalau diperlakukan seperti itu. Karena aku mengalami sendiri. Orang tuaku tidak tahu seberapa gila aku belajar, mengerjakan tugas, buat PR. Bagi mereka, aku di depan laptop, seperti remaja yang keranjingan main internet. Padahal aku pakai internet untuk merampungkan tugasku juga, untuk karya tulisku khususnya.
Mereka tidak tahu seberapa besar pengorbanan yang harus kuberikan untuk tetap bertahan di sekolah ini. "Sekolah di Sanur memang berat". Hanya itu yang bisa mereka ucapkan tanpa tahu makna berat yang sesungguhnya. Segunung tugas dan ulangan terus membukit tanpa meluangkan kita waktu untuk bernafas. Sudah hampir 2 bulan kelasku *aku yakin kelas XII IPA yang lain juga* terus ulangan.
Selama ini, aku selalu bersikap santai di depan orang tuaku, bukan karena aku tidak punya kerjaan, tapi karena memang sudah sifatku seperti itu. Aku tidak mau membuat orang tuaku khawatir tentang tugasku. Aku lebih suka belajar sendiri di rumah, mengerjakan tugas sendiri. Tetapi di mata orang tuaku, aku seperti anak kelas XII yang tidak niat sekolah dan cuma bisa bersantai2 ria.
Dan karena adanya insiden Quincy, aku sadar, lalu mulai berpikir sangat jauh ke depan...
Aku tidak ingin menjadi orang tua yang hanya bisa mendesak anak tanpa tahu perasaan dan kebenaran situasi yang ada. Pengalaman adalah guru terbaik, Manusia belajar dari pengalaman hidupnya sendiri. Itulah prinsip yang benar2 kupegang sebagai bekalku 20-25 tahun mendatang. Aku tidak mau anakku merasakan hal yang sama dengan apa yang kurasakan saat ini...

7 comments:

Anonymous said...

wah ampun sensei! hahahah gw cukup setuju ama pemikirannya bahwa mendingan orang tua tidak terlalu menuntut anaknya, n jg tau batas kemampuan anaknya.. mungkin orang tua dy jg dulu ngalamin hal yg sama, karena mereka jg belajar dari pengalaman mereka?

btw, quincy kan yg pake panah itu di bleach? wkwkwkw :P

Anonymous said...

i.am.impressed.

seriously.sometimes parents are like that.in my case though, they're right most of the time.

though other times i feel like i had to supress the real strong urge to eat tacchon just because my mom's obscene thoughts on ANYTHING japanese....

but parents are almost always correct.

emphasis on the 'almost'
they're humans after all. what do you expect?

BY the way, school kills. sanur kills. I think i know why my IQ's dropped own lately. too much brain cell damage to hold.

時の旅人 said...

nanggepin komen nya ivg1991,,
quincy itu emang ada di bleach, tp quincy di sini itu temen sekelas gw, namanya quincy meilisa..

Anonymous said...

waww..gw suka bagian "belajar dari pengalaman idup" ehehe
aneh tapi cukup realistis hehe..

stuju ama lo dhan soal parents :]

btw gw jlin ipa1 slam knal :]

時の旅人 said...

nanggepin komen jlin...

halo jlin, salam kenal jg..
thx bgt udah mau buka n komen2 d bloh gw,,
sori y, kalo masih belom ada apa2nya..
hehehe ^^

btw, tau blog gw drmn?

Anonymous said...

lily...
gw br tau ternyata lo menyimpan segala sesuatu dan membuangnya d blog ini..
kau mirip diriku..

membaca tulisanmu td gw jd merasa menyesal....
ortu gw begitu percaya gw sngt rajin bljr, bljr, dan bljr
gada cerita jalan2 or main internet

padahal....
knapa gw br nyampe rmh jam stngh 7 tiap hari?????
krn rmh gw jauh? bukan!!
krn macet?? bukaaann!!
krn bisnya lama ga dtg2?? bukan jugaa!!!

tp jwbnya adl krn gw jln2, bc novel d gramed mpe sore, baru pulang...

dan gw gk pernah sekalipun bikin pr d rmh selama klas 3 ini...

ga percaya?? tanyalah fanka..
msh mo blg nilai gw ttp bgs dg cara itu???

lihatlah rapor gw!! hancur berantakan...

idup gw ud kaya sampah, sampah masyarakat..
bnr2 gada artinya

hmmmm *take a deep breathe*
apa yg hrs gw lakukan skrg? mulai dr nol lg? belajar dan belajar keras seperti yg disangka oleh ortu gw slama ini?

semoga, li, semoga..

Anonymous said...

lili sayank hehe..
setelah sekian lama gw mendengar nama gw ada di blog lu, baru kali ini gw berkesempatan membacanya secara langsung hehehe...

thx ya li..
buat semangat yang udah lu kasih buat gw hehe,,
lu gaol li!

btw kalo boleh tau, itu yang dimaksud dengan 'dia' di awal kalimat tuh sapa?? gw?? hehe
abis bingung makasii ly..